Syarat – syarat harta atau aset yang diperbolehkan dalam wakaf

Salah satu dari 4 rukun wakaf merupakan  adanya harta atau aset yang akan diwakafkan. Dalam bahasa Arab, harta atau aset yang diwakafkan disebut dengan istilah “Mauquf”.

Lantas, apa saja syarat harta yang diperbolehkan dalam wakaf?

Berikut penulis merangkumnya, dilansir dari wakafpedia.com:

Syarat pertama untuk harta yang diwakafkan adalah harta tersebut berupa benda atau barang dan atau ruang kosong. Hal ini disesuaikan dengan hadits Nabi tentang wakaf kebun milik Umar bin Khattab. Hadits tersebut berisi tentang, Rasulullah memerintahkan agar Umar bin Khattab menahan pokok harta wakaf (maksudnya tidak dialihkan kepemilikannya kepada pihak lain), dan menyedekahkan manfaatnya. Dalam Islam, manfaat barang tidak akan ada wujudnya, kecuali dengan adanya barang atau benda tersebut.

Sedangkan yang dimaksud “ruang kosong” adalah berkaitan dengan wakaf tanah. Di mana wakaf tanah, ruang kosong yang ada di atas tanah, ataupun ruang kosong yang ada di bawah tanah dan dianggap sebagai kepemilikan orang yang mempunyai tanah tersebut.

Muayyan atau Spesifik

Syarat kedua dari harta yang diwakafkan, yakni harus mempunyai kriteria muayyan yang berarti spesifik atau jelas. Sebagai contoh, seseorang memiliki 2 rumah dan ingin mewakafkan salah satunya. Oleh karena itu, calon wakif tidak boleh berwakaf dengan ikrar yang tidak jelas, misalnya:”Saya akan mewakafkan salah satu rumah Saya”, tanpa menyebutkan rumah mana yang dimaksud. Hal ini bertujuan untuk menghindari kesalahan atau kekeliruan atas harta wakaf yang bisa menyebabkan masalah di kemudian hari.

Dimiliki oleh Wakif

Syarat ketiga, harta yang diwakafkan harus dimiliki oleh wakif. Konsekuensinya, tidak sah jika harta yang bukan miliknya, meskipun secara legal boleh memanfaatkannya. Sebagai contoh, barang sewa, barang pinjaman, barang wasiat, dan lainnya. Begitu pula mewakafkan diri sendiri, tidak sah menurut syarat karena manusia bukanlah milik dirinya sendiri, melainkan kepunyaan Allah Swt.

Sebaliknya, harta yang dimiliki masih dalam penggunaan orang lain, maka sah untuk diwakafkan. Sehingga harta yang sedang disewa, dipinjamkan, bahkan dighasab (diambil oleh orang lain dengan cara yang tidak sah), sah diwakafkan.

Bisa Dialih-Milikkan

Syarat berikutnya adalah harta yang bisa dialih-milikkan. Artinya, harta yang bisa dimiliki tapi tidak bisa dialihkan hak miliknya tidak sah diwakafkan. Sebagai contoh, budak mustauladah (budak yang mengandung anak majikannya) dan budak mukatab (budak yang menebus kemerdekaannya dengan cara mencicil pembayarannya kepada majikan), maka ini tidak sah untuk diwakafkan.

Berfungsi

Syarat kelima, harta yang diwakafkan harus berfungsi. Konsekuensinya, harta yang tidak mempunyai fungsi tidak sah diwakafkan.

Fungsi harta wakaf dapat dibedakan menjadi duam yaitu faedah dan manfa’ah. Fungsi faedah adalah fungsi yang dihasilkan oleh harta wakaf, misalnya buah dari pohon, susu dari sapi, dan lain-lain. Sedangkan fungsi manfaah, adalah fungsi yang terdapat pada benda wakaf tersebut, misalnya fungsi rumah yang digunakan untuk tempat tinggal, fungsi tanah untuk dibangun masjid, dan lain-lain.

Terkait fungsi harta wakaf, terdapat ketentuan lainnya, yaitu

  • Fungsi yang ada pada harta wakaf merupakan fungsi yang legal secara syariah. Maksudnya, fungsi barang tersebut salah satu fungsi yang dibolehkan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, bukan fungsi yang makruh apalagi haram.
  • Fungsi yang ada pada harta wakaf sesuai dengan aslinya. Sebagai contoh, fungsi dari uang, dinar dan dirham adalah untuk transaksi, bukan untuk dijadikan hiasan. Pensyaratan fungsi yang asli ini adalah untuk menjaga harta yang digunakan sesuai dengan fungsi sebenarnya.

Pemanfaatan Tidak Menggerogoti Fisik Mauquf

Syarat keenam, jika harta yang diwakafkan dapat dimanfaatkan, maka pemanfaatan tersebut tidak akan menggerogoti atau mengurangi fisik barang tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan harta wakaf, sebagaimana hadits Nabi untuk “menahan pokoknya dan mensedekahkan hasilnya”. Dengan demikian, harta yang akan habis digunakan jika dimanfaatkan, maka hukumnya tidak sah.

Sebagai contoh , seperti makanan, sabun, dan lilin tidak sah diwakafkan karena sifatnya akan habis jika digunakan.

Bagikan:

Menu